KALIMANTAN , Basmi Tipikor — Pemimpin Besar Pasukan Merah Tariu Borneo Bangkule Rajakng (TBBR), Panglima Jilah, terus mengupayakan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat, menyusul pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan yang salah satunya membahas persoalan karhutla.

Sebagai tindak lanjut, Panglima Jilah mengajak sejumlah tokoh masyarakat dan ulama untuk bersinergi membantu upaya penanggulangan karhutla. Langkah tersebut menjadi bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan serta masyarakat yang terdampak kemarau panjang.

Menurut Panglima Jilah, perhatian pemerintah terhadap Kalimantan tidak hanya menyangkut penanganan karhutla, tetapi juga berbagai kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, tokoh adat, masyarakat, dan tokoh agama dinilai penting untuk mendukung upaya penanganan persoalan di lapangan.

Salah satu tokoh yang turut bersinergi adalah Habib Abu Djibril Basyaiban, tokoh santri yang disebut pernah menjadi Pembina Pesantren RI pada era Presiden Joko Widodo.

Kepada awak media, Habib Abu Djibril menyampaikan apresiasi terhadap kepedulian Panglima Jilah yang dinilainya luar biasa dalam mengupayakan penanggulangan karhutla di Kalimantan.

Menurutnya, ikhtiar tersebut tidak hanya dilakukan melalui sinergi antartokoh, tetapi juga melalui pendekatan spiritual dengan bermunajat dan memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Alhamdulillah, hujan rahmat akhirnya mengguyur Kalimantan. Puncaknya pada Rabu, hampir seluruh masyarakat Kalimantan merasakan kebahagiaan dengan turunnya hujan yang diharapkan dapat membantu meredakan karhutla,” ujar Habib Abu Djibril.

Ia menjelaskan, sebagai kalangan santri, dirinya meyakini bahwa setiap persoalan harus dihadapi melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh, disertai doa dan kepasrahan kepada Allah SWT.

Habib Abu Djibril juga menyinggung pentingnya riyadhah dan pelaksanaan doa bersama sebagai bagian dari ikhtiar spiritual, sebagaimana umat Islam mengenal salat istisqa untuk memohon turunnya hujan ketika menghadapi kekeringan.

“Santri diajarkan untuk menghadapi persoalan dengan ilmu, doa, dan cara yang benar. Ibarat bermain sepak bola, semua orang bisa menendang bola, tetapi tanpa teknik dan aturan yang tepat, bola belum tentu masuk ke gawang. Begitu pula doa dan munajat, harus disertai kesungguhan serta tata cara yang benar,” tuturnya.

Ia menegaskan, doa dan ikhtiar spiritual merupakan bagian dari upaya menghadapi berbagai persoalan. Namun, penanganan karhutla juga membutuhkan langkah nyata, termasuk pencegahan kebakaran, pemantauan wilayah rawan, serta kerja sama berbagai pihak agar dampak kebakaran dapat ditekan.

Ke depan, Habib Abu Djibril menyatakan akan terus bersinergi dengan Panglima Jilah, termasuk menjaga silaturahmi dengan pesantren-pesantren dan memperkuat peran tokoh agama dalam membangun kepedulian sosial serta persatuan bangsa.

Ia juga menegaskan pentingnya berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Harapan kami, kebersamaan ini terus terjaga. Silaturahmi harus diperkuat, persatuan dirawat, dan seluruh elemen masyarakat bersama-sama menjaga Indonesia sesuai nilai-nilai yang diwariskan para pendiri bangsa,” pungkasnya.

Upaya kolaboratif tersebut diharapkan dapat memperkuat kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat Kalimantan. Di tengah ancaman karhutla, sinergi pemerintah, tokoh adat, ulama, pesantren, dan masyarakat perlu terus didorong agar ikhtiar spiritual berjalan beriringan dengan langkah pencegahan serta penanganan kebakaran secara nyata dan terukur. * Editor Polman Manalu *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © All rights reserved. BASMI TIPIKOR. | Best view on Mobile Browser | ChromeNews by AF themes.