Ketua Komunitas Agama Cinta GUS SHOLEH
JAKARTA,basmitipikor.com – Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Anti Intoleransi Indonesia menggelar aksi damai menuntut pemerintah bertindak tegas menghentikan maraknya aksi intoleransi dan persekusi rumah ibadah di berbagai daerah. Mereka menegaskan, intoleransi bukan sekadar pelanggaran sosial, melainkan bentuk pengkhianatan terhadap konstitusi serta menjadi luka mendalam bagi persatuan bangsa.
Aksi dimulai dari Gedung Sarinah, Jakarta, dilanjutkan dengan long march menuju kawasan Patung Kuda Monas. Sepanjang perjalanan, massa membagikan bendera Merah Putih kepada pengendara motor sebagai simbol bahwa perjuangan ini murni untuk NKRI, bukan semata isu agama.
Setibanya di lokasi, teriakan orasi menggema membakar semangat para peserta. Suara tabuhan genderang, nyanyian lagu-lagu perjuangan, dan teriakan “Tolak Intoleransi!” terdengar berulang kali. Beberapa peserta aksi membawa poster dan spanduk berisi pesan-pesan persatuan seperti “Indonesia Rumah Bersama” dan “Lindungi Kebebasan Beragama”.
Dari atas mobil komando, Ketua Komunitas Agama Cinta GUS SHOLEH dengan suara lantang menyerukan agar Presiden Prabowo Subianto segera mencabut Surat Keputusan Bersama (SKB) 2 Menteri yang dinilai menjadi hambatan kebebasan beribadah. Ia juga mendesak dikeluarkannya Peraturan Presiden tentang jaminan kebebasan beragama, serta pembentukan badan khusus penjaga kerukunan beragama di Indonesia.
“Kami menuntut perlindungan penuh bagi kebebasan beragama di seluruh wilayah Indonesia. Negara harus hadir, tegas, dan melindungi setiap warga tanpa diskriminasi. Jangan biarkan intoleransi menjadi api yang membakar persatuan kita,” tegas GUS SHOLEH.
Menurutnya, intoleransi yang dibiarkan akan menjadi ancaman serius terhadap keutuhan bangsa. Ia mengingatkan bahwa Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika bukan hanya slogan, melainkan komitmen yang harus diwujudkan dalam kebijakan nyata.
Aksi damai ini berlangsung tertib dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Menkopolhukam menerima perwakilan massa untuk berdialog dan menampung aspirasi. Meski cuaca panas menyengat, massa tetap bertahan hingga aksi selesai, menunjukkan tekad kuat untuk mengawal isu kebebasan beragama di Indonesia. ( Polman Manalu )


